Bismillah, ceritanya mau posting hasil tulisan. hehe..
Judulnya "SESAL", doain ya semoga cepet update ^_^
Bagian 1.
Bandung, 14 September 2007
Judulnya "SESAL", doain ya semoga cepet update ^_^
Bagian 1.
Bandung, 14 September 2007
Kepada yang Terbaik,
Kau,
yang namanya pernah ku tulis di bangku meja sekolahku..
di
mana pun hatimu berada.
aku
ingin berbagi sebuah kisah, tentang perasaanku di masa lalu.
Mari kita mulai kembali,
Mengapa tak dapat kita ulang kembali?
Biarkan saja kita mulai semua dari awal
kelak kita akan menjadi baik
Kali ini kita akan meraihnya, meraihnya dengan kebenaran
kali ini adalah kesempatan terakhir kita,
untuk memaafkan kesalahan kita di masa lalu...
Pernah nggak sih kita
mikir dalam hati, “Gimana yah aku di mata orang lain?”, “Seperti apa sih orang
lain menilai aku?”. Pernah nggak?. Kalau pernah, selanjutnya udah pernah belum
nanyain ke orang lain tentang diri kita?. Lebih sering mana sih nanya ke orang
lain atau berusaha menilai diri sendiri?.
Pernah nggak ketika
kita merasa udah melakukan hal yang benar dan sesuai dengan apa yang kita
yakini bener, tapi kok respon lingkungan seperti menolak, bahkan melawan.
Kenapa ya?, padahal aku sudah melakukan yang benar, aku sudah berusaha yang
terbaik, dll. Pernah nggak?.
Dan ketika kita mulai
mencium bau penolakan lingkungan biasanya kita mulai ngasih penguatan ke diri
sendiri. Ah jangan dengerin apa kata
orang. Ah percaya diri aja. Ah mereka mah cuma sirik aja. Mereka gitu karena
mereka ga mampu. Aku yakin aku bener, mungkin ini cobaan aja buat aku. Dan berbagai usaha pembenaran diri lainnya.
Tapi pernah nggak
ketika dihadapkan atas respon lingkungan yang kaya gitu kita malah mikir, kenapa ya respon mereka gini?. Kira-kira apa
yah salahku?. Kayanya ada yang salah deh di diri aku. Pernah nggak mikir
gitu?.
Aku mau kasih satu
teori berdasarkan pengamatan pribadi, gini:
Bolehkah Aku men**nt**mu biasa saja?,
Bolehkan Aku men**ya***mu biasa saja?.
![]() |
| Pintu Masuk Dekanat di Salahsatu Fakultas Kampus |
Dulu tuh waktu masih kecil, kayanya enak banget ya, kita bisa lari-lari, kesana kemari, ketawa dengan leapasnya. Definisi bahagia waktu itu tuh sederhana banget, cukup ketemu temen, main permainan terus ketawa bareng. Kalau udah dzuhur pulang bentar, makan disuapin ibu, trus abis itu tidur beres ashar main lagi, baru pulang pas maghrib. eeh.... Jadi curhat masa-masa bocah. Hehe.
Tapi serius, dulu tuh semua rasanya sederhana, dan mengalir
apa adanya, kita ketemu orang yak arena pengin ketemu aja, pengin main, senyum
dan ketawa bareng. Dulu tuh ngga ada yang namanya sakit hati, hanya paling
lutut lecet gara-gara jatuh waktu sepeda-sepedaan, ada juga sih musuhan tapi
itu juga cuman gegara kalah pas main petak umpet, atau curang pas main
kejar-kejaran, sehari dua hari juga bakal balikan lagi.
Makin kesini kayanya makin beda, makin gede kayanya
orang-orang mulai beda. Beberapa orang mulai berkelompok, walaupun kayanya hal ini udah
jadi hukum alam, ngumpul sama
orang-orang yang emang sama, misalnya satu kelas pas sekolah, sama hobinya,
sama idolanya, sama aktivitasnya, dll. Definisi bahagia kayanya menjadi semakin
menyempit, ketika kita (atau mungkin cuma menurutku?) bisa mencapai tujuan sama
komunitas di sekeliling kita, misalnya jalan-jalan bareng temen kelas, kumpulan
pramuka atau osis, dan kalau liat komunitas lain bawaannya pengin saingan. waktu itu tuh lagi seneng-senengnya nunjukin eksistensi diri. Gitu
nggak sih?. Iya kan?.
Daan, makin kesininya lagi, aku merasakan perbedaan yang
kentara banget, kayanya setiap orang nggak lagi berkelompok, tapi masing-masing
udah punya konsep bahagia sendiri, meskipun ia berkelompok, ia dalam satu
komunitas, namun belum tentu hatinya ada di situ. Ada lagi yang mulai main
politik, masing-masing individu bergabung, membangun kekuatan buat nyapai
tujuan, sikut lawan politiknya, bungkam tim lawannya, tapi ujung-ujungnya cuma dalam rangka muasin pribadi doang. Ah, gelap sekali pokonya.
Kayanya makin gede orang tuh nggak lagi kaya dulu anak-anak, ke sana kesini ya
karna pengin aja, mau ketemu orang ini atau itu yak arena pengin aja, sederhana
dan mengalir. Tapi sekrang nggak, sekarang ngga kaya gitu.
A song by Ayah Surayah Pidi Baiq
NiaBolehkah aku menjadi biolamuYang engkau pijit, yang engkau rawatDan kau mainkan.. selalu...
NiaBolehkah aku menjadi tangan kananmuYang menyuapimu...
NiaBolehkah aku menjadi tangan kirimuYang membasuhmu...
NiaBolehkah aku menjadi jari tengahmuYang engkau pakai maki musuhmu...
Nia...bolehkah aku...Nia...bolehkah aku...Nia...yang penting Nianya...
NiaBolehkah aku menjadi tulang punggungmuSlalu menyangga indah tubuhmu...
NiaBolehkah aku menjadi jari tanganmuYang membersihkan noda hidungmu...
NiaBolehkah aku menjadi idolamuYang engkau simpan dalam dompetmu...
Nia...bolehkah aku...Nia...bolehkah aku...Nia...yang penting Nianya...
NiaBolehkah aku menjadi sabun mandimuYang membersihkan tubuhmu...
NiaBolehkah aku menjadi bantal gulingmuYang menemani tidurmu...
NiaBolehkah aku menjadi air minummuYang melepaskan dahaga mu...
NiaBolehkah aku menjadi tanah airmuYang engkau bela selalu...
NiaBolehkah aku...Nia...bolehkah aku...Nia...yang penting Nianya...
NiaBolehkah aku menjadi tempat tinggalmuYang menaungi dirimu...
NiaBolehkah aku menjadi keringatmuMembasahimu...
NiaBolehkah aku menjadi orang tuamuMencemaskanmu...
NiaBolehkah aku menjadi klosetmuYang menampungmu...
NiaBolehkah aku menjadi dirimuYang kucintai selalu...
https://youtu.be/M72IGuUAmFw



